Jika Aku Menjadi…

Topics: , , , , ,

Profit Sender

Membaca sepintas judulnya seperti sebuah reality show yang ada di salah satu statiun televisi swasta. Tapi ini berbeda. Terlintas di pikiran saya, karena meilihat penomena orangtua (khususnya ibu) yang bekerja sangat sangat sangat sibuk sekali. Pergi pagi pulang petang penghasilan pas pasan., hehe…

wanita karir

Jadinya judulnya Jika Aku menjadi Wanita Karir yang super sibuk.

Karena hidup adalah pilihan tentunya saya tak akan memilih profesi ini untuk saya jalani, tapi karena meilihat penomena yang sedang marak saat ini, mungkin tulisan ini bisa memberikan pencerahan, mudah-mudahan…

Tetap bu… tugas ibu yang utama adalah keluarga. Bukan kewajiban seorang ibu untuk mencari nafkah di luar sampai melalaikan tugas keluarga. Kalo ibu terlalu sibuk mencari nafkah terus tugas suami apa? Terus keluarga/rumah dan anak diurus siapa? Pembantu???

Baiklah… baiklah…

Siapa yang menginginkan anak lahir? Bukankah kita yang menginginkannya? Tapi kok setelah lahir mereka diabaikan, bahkan mereka menjadi yatim piatu disaat orangtuanya masih lengkap, karena orantuanya terlalu sibuuuuuukkkk bekerja.
Kan bekerja juga demi memenihi kebutuhan anak? Memang kebutuhan anak hanya itu? Cinta, kasih sayang, perhatian, kebersamaan, pendidikan, moral, sopan santun apakah itu tidak penting untuk dipenuhi?

Ternyata memang ada ibu-ibu yang super sibuk itu, pergi paling telat jam7 pagi pulang paling awal jam7 malam, lantas pulang kerumah tetap melanjjutkan pekerjaan kantor, kalaupun tidak hanya menonton tv. Lalu kapan kebersamaan dengan anaknya? Menanamkan nilai-nilai moral dan kebaikan yang seharusnya ditanamankan sejak dini?

Memang ada pembantu, tapi apa tugas pembantu? Mungkin hanya mengawasi sehingga tak jadi rewel, namanya juga pembantu, (maaf bukan bermaksud merendahkan)…
Apalagi pembantu jaman sekarang disela-sela waktu senggang walaupun sedikit pasti ber hp-hp ria, hanya mengecek atau pun sms an yang tak terlalu  penting.

Sungguh-sungguh saya tak mau anak saya diurus oleh pembantu kalo memang seperti itu, mau jadi apa anak saya, generasi penerus yang seharusnya lebih baik dan berkualitas tapi malah jauh lebih bobrok. Ga mau… ga mau…ga mu…

Jika saya menjadi wanita karier, saya tak akan melalaikan tugas utama saya yaitu sebagai ibu rumah tangga, mengurus rumah, menyiapkan kebutuhan suami dan anak. Yang utama bagi saya adalah tidak mengabaikan anak. Memang kebersaan dengan anak durasinya pendek, tapi bisa membuat yang pendek itu tetap berkualitas.

Kalau memang pagi sekali harus sudah berangkat, berarti saya harus bisa bangun lebih pagi untuk menyiapkan semuanya. Menyiapkan makanan, pakaian dan kebutuhan lahiriah lainnya. Juga Menyiapkan ‘silabus’ kegiatan anak untuk satu hari yang dipesankan kepada pembantu atau pengasuhnya dirumah. Jadi walaupun kita tak bersamanya, tapi hari-hari anak tetap bisa berkualitas karena semuanya sudah teratur dan terencana. Mungkin di sela-sela kerja atau waktu istirahat, ibu bisa menelpon pengasuh anak untuk mengontrol kegiatan anak.

Ketika waktunya pulang dan sudah berada dirumah, sebaiknya lupakan tugas kantor, saatnya kebersamaan dengan anak. Stop matikan televisi. Walau tak lama temani anak bermain, mendengarkan ceritanya, dan membacakannya cerita sebelum tidur.

Manfaatkan weekend untuk kebersamaan keluarga, misalnya pergi berwisata ke alam atau taman bermain atau sekedar berjalan-jalan bersama mengelilingi kompleks sambil sarapan bersama. Indah bukan…

Tak masalah dengan wanita karier atau ibu yang bekerja, tapi… tapi… tapi… yang harus diingat jangan abaikan keluarga… jangan abaikan anak…

One thought on “Jika Aku Menjadi…

  1. Pingback: Smart Parenting With Love | MamaCerdas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>