Kita, Bukan Orangtua Malaikat

Topics: , ,

Profit Sender

Ayah, Ibu…
Ketahuilah, menjadi orangtua terbaik untuk anak-anak kita bukanlah berarti kita diharapkan menjadi orangtua “malaikat” yang tak boleh kecewa, sedih, pusing menghadapi anak.
Perasaan-perasaan negatif pada anak itu wajar,
Bagaimana menyalurkannya hingga tak sampai menyakiti anak,
Itu yang menjadi fokuts perhatian.

Artinya, ayah ibu,
Sebenarnya kita masih tetap boleh sedih, kecewa pada anak, tetapi kita sama sekali tak berhak untuk melukai dan menyakiti anak-anak kita.
Ketahuilah, melotot, mengancam, membentak dapat melukai hati anak teluka
Apalagi, mencubit dan memukul tubuhnya
Tubuhnya bisa kesakitan,
Tapi yang lebih sakit sebenarnya apa yang ada dalam tubuhnya.

Ayah, ibu…
Karena kita bukan malaikat,
Maka yakinlah anak kita pun bukan malaikat
Yang lansung terampil berbuat kebaikan.
Mereka tengah belajar, ayah.
Mereka sendang berproses, ibu.
Seperti belajar bersepeda,
Kadang mereka terjatuh,
Kadang mereka mengerang kesakitan ketika terjatuh.

Demikian juga dengan perilaku anak-anak kita,
Mereka bereksplorasi,
Mereka berproses,
Mereka mengayuh kehidupan
Untuk meraih kebaikan
Dan menjadi manusia yang berperilaku baik.
Ketika mereka terjatuh saat belajar berperilaku
Sebagian kita lalu memvonisnya sebagai anak nakal,
Padahal sebenarnya mereka belum terampil berbuat kebaikan.

Jika Ayah Ibu membimbing kebelumterampilan perbuatan bai anak dengan cara yang baik.
Insyaallah, kebelumterampilan berbuat baik mereka
Akan terus tergerus dari kehidupan mereka

Tetapi, Ayah, Ibu..
Jika kita menghadapi ketidakterampilan ini
Dengan tekanan, ancaman, bentakan, cubitan, pelototan, mereka akan semakin terpuruk ke arah keburukan.

Ayah, ibu…
Yakinlah, ketika seorang anak emosinya kepanasan;
Nangis, marah yang terekspresikan dalam bentuk yang mungkin dapat membuat orangtua jengkel,
Siramlah dia dengan kesejukan
Menyirami kayu yang terbakar dengan minyak panas hanya membuat ia semakin terbakar

Ayah, ibu…
Yakinlah, sifat-sifat negatif anak hanyalah bagian eksplorasi untuk mencari cahaya kehidupan.
Jika kita memahaminya sebagai sebuah bagian proses kehidupan,
Insyaallah anak-anak kita akan menebar cahaya utuk kehidupan

Karena itu ayah, ibu…
Jika kadang amarah dengan kejahilian memperlakukan anak mampir lagi dalam hidup kita,
Kamus yang benar adalah “inilah uji ketulusan”
Bukan kegagalan,
Terus belajar tentang kehidupan, bukan tak berhasil dalam kehidupan.
Belajar, memburu ilmu,
Adalah ikhtiar yang kita tuju,
Karena sebagian kita ketika menikah
Tidak disiapkan jadi orangtua

Jadi, ayah, ibu…
Mari kita terus belajar, meskipun telah menjadi orangtua: belajar… jadi orangtua
Andaikan keluarga kita kuat,
Insyaallah anak-anak kita memiliki ketahanan mental terhadap lingkungan yang gawat

(dari buku sudahkah aku jadi orangtua shaleh? Pengarang Ihsan Baihaqi )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>