Tak dapat disangkal bahwa kondisi perempuan Indonesia sedang berada di ujung tanduk, karena sebagian besar memiliki kualitas SDM yang masih di bawah standar. Sudah seharusnya, kondisi ini menggelitik kita untuk berbuat sesuatu dan melakukan upaya untuk meningkatkan SDM kaun perempuan tersebut. Apalagi jika kita menyadari, bahwa kualitas ibu selanjutnya mencerminkan kualitas keluarga, sementara kualitas keluarga mencerminkan kualitas masyarakat. Akan sangat berbeda kualitas keluarga yang dihasilkan, antara perempuan (ibu) yang cerdas dan yang tidak. Begitu pula kualitas para generasi penerus yang ditumbuhkan di dalam keluarga tersebut. Bukankah ibu adalah guru kehidupan utama bagi anak?
Profesi Ibu Rumah Tangga yang sebenarnya menempati peran kunci sebagai Ratu Keluarga, masih kerap mendapatkan ‘pandangan’ negatif dalam masyarakat. Hal ini menyebabkan rendahnya citra diri para ibu, terutama yang memilih untuk tidak bekerja di luar rumah. Akibatnya, tak ada lagi semangat untuk mencari pemenuhan aktualisasi diri, apalagi untuk mengembangkan diri. Begitu banyak para ibu yang lantas menjadi stagnan pada posisinya dengan kualitas yang sama dari tahun ke tahun, bahkan menurun karena banyak ilmu mereka yang tak sempat diterapkan dalam kehidupan.
Menjadi ibu ternyata tidaklah semudah yang saya duga. Bahwa ternyata banyak sekali ilmu yang dibutuhkan untuk mengelola keluarga. Bahwa penting sekali bagi saya menjadi ibu yang cerdas, MamaCerdas.
Begitu luas permasalahannya yang terdapat dalam lingkup keluarga sama luasnya seperti yang diurus oleh sebuah perusahaan!
Benar, jadi kita bisa analogikan bahwa rumah tangga tak beda dengan sebuah perusahaan. Yang didalamnya bisa terdapat puluhan bahkan ratusan permasakahan mencakup bidang yang luas. Yang untuk mengatur dan mengelolanya pun diperlukan keahlian sama dengan keahlian mengelola perusahaan. Itulah Manajemen Rumahtangga!
Jika dalam perusahaan ada divisi keuangan, kerumahtanggaan, properti, pengembangan SDM, bina rohani pun ada di rumah tangga!
Jadi kuncinya…. harus mau belajar. Memang kita tak sekolah lagi, tak kuliah lagi, tapi saat ini kita sedang belajar… belajar di Universitas Kehidupan–Live University. Tentunya jauh lebih berat dari pada ketika kita kuliah dulu, jadwal yang lebih padat, tugas-tugas yang lebih pelik dan rumit dimana hasilnya bukan hanya sedekar Index Prestasi tapi hasilnya terlihat dari kualitas keluarga kita, kualitas anak-anak kita, generasi penerus kita.
