Sebagaimana orang dewasa, sebenarnya anak-anak pun memiliki emosi. Emosi adalah sesuatu yang lumrah dan wajar dimiliki semua orang, termasuk anak-anak dan bahkan sejak mereka bayi, mereka sudah memiliki emosi.
Ketika seseorang marah dan kesal, kita sering mengatakan “dia lagi emosi” atau “jangan emosi begitu dong” atau kalimat lain yang sejenis ini. Sebenarnya, kelimat ini tidak salah. Tapi juga tidak benar jika kalimat ini hanya dikaitkan dengan perasaan negatif. Emosi merupakan perasaan seseorang yang ditujukan kepada orang lain atau terhadap sesuatu.
Ketika seseorang merasakan marah, kesal dan yang sejenis ini, ini biasa disebut emosi negatif. Tapi emosi tidak hanya dapat berbentuk emosi negatif, tapi juga positif. Saat seseorang merasa senang pada sesuatu, terkejut karena sesuatu, ataupun terharu terhadap sesuatu ini juga disebut emosi. Pembedaan jenis ini hanya sekadar istilah, artinya saat seseorang memiliki emosi negatif, bukan berarti emosi negatif adalah salah. Saat seseorang mengalami emosi negatif, seseorang tersebut tengah mengalami ketidaknyamanan dalam perasaannya dan mengalami ketidaksesuain dengan perasaan yang seharusnya diinginkan.
Tidak hanya orang dewasa yang memiliki emosi, ternyata semua orang memiliki emosi, termasuk bayi atau anak. Emosi anak pun mirip dengan orang dewasa, namun yang membedakan adalah cara berpikir mereka. Selain itu, mereka juga belum mengerti perbedaan antara mengalami perasaan dan mengekspresikannya supaya bisa bertingkah laku untuk mengendalikan emosinya.
Emosi anak ditunjukkan dengan cara yang berbeda dari orang dewasa. Itu sebabnya, orangtua harus tanggap pada emosi anak. Orangtua bisa mempertimbangkan apa yang seharusnya disampaikan kepada buah hati dengan membaca beberapa respon terhadap emosi anak.
Hampir semua orangtua mungkin menerima pada saat anak mengalami emosi positif (gembira, riang, senang, ketawa atau yang sejenis), tapi tak semua orangtua menerima pada saat anak mengalami emosi negatif (menangis, rewel, marah, sebel, sedih atau yang sejenis ini). Bahkan sebagian orang cenderung menolak emosi negatif anak.
Sebenarnya, hal ini sangat berbahaya! Jika emosi negatif anak diabaikan, apalagi ditolak, justru emosi negatif ini tidak akan keluar dalam jiwa anak dan akhirnya menumpuk menjadi energi negatif pada anak. Akibatnya, banyak anak tidak bisa mengelola emosinya dengan baik. Terutama pada saat mereka mengalami emosi negatif. Alih-alih terlatih untuk mengekspresikan emosinya dengan cara yang baik, lah sebagian anak tak mengerti emosi apa yang tengah mereka alami, akibat sering diabaikan dan ditolak (dibungkam!) Saat anak kesal, marah, sebagian orangtua malah balik memarahi anak!
Bagaimana kita menunjukkan emosi negatif setelah dewasa, benar-benar sangat dipengaruhi bagaimana kebiasaan kita menunjukkan emosi saat kita kecil. Karena itu, bagaimana cara orangtua melatih anak mengelola emosi negatif ini akan mempengaruhi bagaimana anak-anak ini kelak setelah dewasa mengeloal emosinya.
Coba perhatikan, saat memiliki emosi negatif, sebagian mereka mengekresikannya dengan cara yang justru negatif yang ofensif dan cenderung destruktif: menggebrak meja, melempar barang, menutup pintu keras-keras, berteriak-teriak, nyerocos sendirian (baca: ngomel sendiri). Sebagian lagi mengekspresikannya dengan defensif: tak mau ngajak ngomong, diam seribu bahasa, tak mau bersilaturahmi dan atau yang sejenis ini.
Baik ofensif maupun defensif, cara menyalurkan emosi seperti di atas adalah tidak konstruktif dan cenderung tak menyelesaikan masalah, bahkan jadi bumerang bagi pegadaian (menambah masalah dengan masalah). Ketahuilah saat seseorang kesulitan menyalurkan emosinya lewat mulut, maka ia akan menyalurkannya dengan cara yang lain, yakni lewat tangan, kaki atau yang lainnya. Ini berlaku bagi orang dewasa juga bagi anak-anak.
Contoh, pada saat seorang anak merasa diperlakukan tidak adil oleh orangtua, dan dia marah pada orangtuanya, saat anak ini tak terbiasa didengarkan oleh orangtuanya, maka apa yang anak ini lakukan? Ada banyak kemungkinan, tapi beberapa contoh diataranya biasanya adalah: membangkang orangtua, memberontak orangtua, tak mau duduk lama-lama dekat orangtua dan tak mau banyak bicara dengan orangtua dan atau dengan cara negatif lainnya. Atau tidak melakukan apapun, tapi terus memendamnya, dan semain tidak adil, semakin menumpuklah emosi negatif ini.
Lain halnya jika anak ini terbiasa nyaman bicara dengan orangtua, maka ia akan bicara melalui mulutnya “aku nggak suka mama bandingin aku dengan adik! Aku sebel sama papa!”. Meski perkataan ini mungkin menyebalkan orangtua, tapi ini jauh lebih baik dibandingkan anak tidak bicara, karena pasti anak akan menyalurkannya dalam bentuk yang lain.
Pertama kali yang harus benar-benar difahami adalah bahwa MENGALAMI emosi negatif ini tidak salah, CARA MENYALURKAN perasaan itulah yang orangtua harus bimbing dari anak-anaknya. Melatih anak-anak untuk bicara saat mengalami emosi negatif adalah jalan selanjutnya yang positif. Mari latih anak-anak kita untuk bicara. Agar mereka tidak memendamnya yang akhirnya menjadi negatif buat perkembangan jiwa mereka, tapi juga tidak menyalurkannya dengan cara yang negatif. Maka insya Allah, bukan hanya intelektualnya yang matang, bukan hanya pertumbuhan fisiknya yang sehat, tapi mudah-mudahan juga anak-anak kita memiliki perkembangan mental yang positif. ****
Penulis : Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
Pendiri Program Sekolah Pengasuhan Anak (PSPA)
Email inspirasipspa@yahoo.com | www.auladi.org

Artikel yang bermanfaat..
Blognya juga sangat menarik..
Saya juga punya blog yang berisi pendidikan anak-anak..
Ada:
1. Lagu anak
2. Artikel parenting (cara mendidik buah hati).
3. Artikel pendidikan kreatif..
4. Dongeng anak moral
Kalau mau berkunjung ada di
http://lagu2anak.blogspot.com
Salam kenal..
Mari bertukar link… (kak zepe)