Tak terasa 3 tahun sudah saya menjadi orangtua. Tepat hari ini 13 April 2011 usia Fatih 3 tahun. Sangat luar biasa sekali menjadi orangtua di usia yang relatif muda. Mmm…
Ternyata menjadi orang tua itu tidak gampang…. dibutuhkan Kesabaran super extra tingkat tinggi sekali. Kesabaran menghadapi perilaku anak yang terus berkembang seiring pertambahan usianya. Apalagi menghadapi anak si usia 2-3 tahun, yang sedang serba ingin tahu, ingin mencoba, ego (sifat membangkang) dan lain sebagainya…
Sebagai orangtua kita harus terus belajar, belajar tentang perkembangan anak, psikologi anak, dan yang paling penting belajar kesabaran. Lalu bagaimana saya mendidik anak?
Pengalaman saya dididik oleh orangtua saya dulu tentu sangat berpengaruh pada bagaimana saya mendidik anak saya sekarang. Orangtua saya yang jelas pada jaman-nya belum mengenal istilah parenting-parentingan seperti jaman saya sekarang. Bekal orangtua saya mendidik anak-anaknya tentu hanya naluriah sebagai orangtua dan tentu saja warisan orangtuanya dahulu (nenek kakek saya).
Tak heran seingat saya dulu, saya masih merasakan cubitan, pukulan, bentakan, kemarahan dan kata-kata yang merendahkan. Tapi tentu bukan maksud mereka menyakiti, itu bentuk ekspresi kekesalan dan kemarahan yang mereka ungkapkan atas perilaku buruk saya.
Apa pengaruhnya? Tentu saja berpengaruh pada perilaku saya ketika mendidik/bersikap pada anak saya. Ketika anak saya mulai menunjukkan perilaku ‘buruk’nya, walaupun saya tahu memukul, mencubit, membentak, memarahi dan lain sebagainya itu tidak baik, ketika kesabaran sudah menipis hanya itu yang ingin dilakukan. Mengapa? Karena secara tak sadar perilaku orangtua saya dahulu kepada saya telah terekan dalam alam bawah sadar saya.
Kesimpulannya ketika kita berperilaku buruk kepada anak-anak kita, bukan hal yang mustahil anak-anak kita juga akan berperilaku buruk pada cucu kita nanti. Jadi stop kekerasan pada anak, karena akan membekas di alam bawah sadarnya. Anda tentu masih ingat ketika orangtua anda dulu, mencubit, memukul, memarahi anda bukan? Bagaimana rasanya? Mungkin sakitnya sudah tak ada lagi sekarang, tapi rasanya kok masih membekas di hati ya?
Tentu saja kita menginginkan, yang diingat oleh anak-anak kita adalah perilaku baik dan lemah lembut kita, bukan kekerasan dan sikap buruk kita.
