Perilaku Anak Berawal dari ASI

Topics: , ,

Profit Sender

air susu ibuSaya dapat artikel bagus ini dari milis [Gizi_BayiBalita] yang diasuh oleh Wied Harry Apriadji, pakar kuliner sehat sekaligus ahli gizi.

Dengan membaca tulisan ini, semoga menambah keyakinan kita untuk tetep memberikan yang terbaik untuk buah hati kita tercinta yaitu ASI dan tak terpikir apalagi tergiur sedikit pun untuk memberikan susu formula (susu sapi).

Ada Adi, 4,5 tahun, berarti ada keributan. Boleh jadi itu ungkapan yang

tepat untuk bocah Taman Kanak-kanak itu. Pertengkaran tak cuma terjadi

dengan temannya di sekitar rumah, di sekolah pun begitu. Ibunya

mengeluh, tapi anak lelaki itu tak surut juga bertingkah-polah secara

berlebihan. Cepat beradu mulut plus ringan tangan dan kaki.

Ada kemungkinan pemicunya memang beragam. Namun, bila menilik sebuah

penelitian terbaru tentang kaitan asupan air susu ibu (ASI) dengan

perilaku dan mental anak, ada baiknya si ibu bertanya kepada diri

sendiri, “Apakah si anak mendapat ASI dalam masa yang cukup?”

Penelitian yang dilakukan Dr Katherine Hobbs Knutson, dari Departemen

Psikiatri, Rumah Sakit Umum Massachusetts, Boston, Amerika Serikat,

mengungkapkan bahwa ASI secara signifikan mempengaruhi perangai sang

anak di masa depan. Studi baru seperti dikutip dari HealthDay News ini

menyebutkan, seorang ibu yang mencukupi asupan ASI bayinya tidak pernah

melaporkan adanya masalah perilaku dan mental pada anaknya selama lima

tahun fase pertumbuhannya.

Namun, ditemukan anak yang cuma disusui selama dua bulan berpotensi

berperangai buruk dibanding anak yang ditunjang ASI selama satu tahun.

“Ini merupakan indikasi jika memberi ASI selama pertumbuhan dapat

memiliki efek pada anak,” kata Hobbs. Studi melibatkan sekitar 100

ribu partisipan dari usia 10 bulan hingga 18 tahun. Dalam penelitian,

orang tua ditanya seputar pemberian ASI dan perilaku dan mental anaknya.

Menurut spesialis anak, dr Soedjatmiko, selama proses menyusui akan

terjadi interaksi penuh kasih sayang antara ibu dan buah hatinya.

“Bayi merasa aman, nyaman, dan dilindungi sehingga terbentuk

attachment basic trust sebagai landasan utama perkembangan emosi yang

baik di kemudian hari,” ujarnya.

Konsultan laktasi, dr Utami Roesli, SpA, mengungkapkan, bayi yang

terpenuhi asupan ASI akan memiliki emotional quetient (EQ) dan spiritual

quetient (SQ) yang baik. “Ini yang akan membentuk behave-nya,”

ucapnya. Dibanding susu formula, menurut dia, kontak langsung dari kulit

ke kulit membuat buah hati lebih merasa dekat. “Ketika menyusui juga

ada rangsangan terhadap panca inderanya.

Bayi akan merasakan, melihat, mencium, dan mendengar sesuatu yang ada di

dekatnya, termasuk keintiman dengan ibunya.” Anak yang diberi ASI

akan tumbuh lebih cerdas dan sehat dibanding bayi dengan susu

formula,” kata Ketua Umum Sentra Laktasi Indonesia itu.

Keampuhan ASI pun sudah terbukti. Utami memberi contoh Skandinavia dan

Swedia, dua negara yang sangat mendukung asupan maksimal ASI kepada bayi

dengan membuat kebijakan cuti bagi orang tua. “Bukan cuti hamil

untuk ibunya saja,” ujarnya. Di kedua negeri itu, cuti dapat diambil

satu tahun penuh. Empat bulan pertama pasangan suami-istri tetap

mendapat 100 persen gaji.

Mulai bulan kelima, gaji dibayar 80-90 persen. “Kebijakan ini yang

membuat anak-anak di Swedia dan Skandinavia cerdas dan sehat. Di sana

juga sangat sulit ditemukan susu formula,” ia menambahkan. Lagi

pula, ia menegaskan, menyusui itu merupakan proses bertiga, yakni istri,

suami, dan anak.

Adapun pemenuhan ASI sudah harus dilakukan sejak bayi lahir sampai usia

6 bulan tanpa dicampur makanan atau cairan lain meski air putih

sekalipun. “ASI diperlukan hingga usia bayi 2 tahun, tapi dengan

makanan pendamping,” kata Utami. Dari data yang dimilikinya,

tercatat anak yang disusui ASI, IQ-nya lebih tinggi 12,9 poin pada usia

9 tahun.

Berdasarkan penelitian American Academy of Pediatrics, asupan ASI pada

bayi juga membuat anak terhindar dari penyakit infeksi, seperti diare,

radang paru-paru, dan radang otak. Studi juga mengindikasikan mereka

lebih rendah risiko terkena obesitas, diabetes, dan kanker.

Hal ini disebabkan oleh kandungan enzim dalam ASI mendukung sistem

pencernaan dan meningkatkan kekebalan tubuh. Terutama dari kandungan

yang terdapat pada susu jolong atau kolostrum–cairan kuning kental

pada awal menyusui sampai hari keempat dan ketujuh.

Tidak hanya untuk anak, menyusui juga sangat fungsional untuk kaum ibu.

Menurut Utami, bagi ibu menyusui akan mencegah risiko anemia. Menyusui

secara eksklusif selama enam bulan berdampak pada penundaan haid.

Dengan demikian, ibu dapat menyimpan zat besi dan mencegah terjadi

defisiensi zat besi yang memicu anemia. Lalu, isapan bayi pada payudara

ibu juga akan mencegah perdarahan setelah melahirkan dan mempercepat

involusi uterus (pengecilan rahim kembali).

Selain itu, dapat mengurangi risiko terjangkit kanker payudara dan

ovarium. “Banyak penelitian yang membuktikan adanya hubungan antara

infertilitas dan tidak menyusui dengan peningkatan risiko terkena

kanker,” ucap Utami. Walhasil, dia menyimpulkan bayi akan sehat

secara fisik, intelektual sekaligus emosional, jika hak ASI anak dapat

dipenuhi oleh sang ibu.

AGAR OPTIMAL

Minta Inisiasi Menyusui Dini (IMD).

Bayi jangan dipisahkan dari ibunya setelah melahirkan.

Selama 48 jam pertama tidak diberi susu formula.

Permintaan dan suplai ASI secara rutin (dikeluarkan 10 cc, maka

diproduksi 10 cc).

Ada dukungan emosi dari suami dan keluarga. ASI eksklusif saat bayi

berusia 0-6 bulan.

Konsultasi ke dokter (bila perlu).

2 thoughts on “Perilaku Anak Berawal dari ASI

  1. Pingback: Kenapa Harus Susu Formula? (Bahaya Susu Sapi) | MamaCerdas.com

  2. Pingback: Tips Aman dari Bakteri E. Sakazakii | MamaCerdas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>