Berikut beberapa hal negatif yang sering muncul saat proses pembelajaran makan berlangsung.
- Lama dan berantakan
Orang tua harus paham benar bahwa anak tidak langsung bisa makan dengan benar seperti yang dilakukan orang dewasa. Seringkali anak hanya mengaduk-ngaduk makanan dalam piringnya hingga meja jadi berantakan. Aktivitas makannya pun jadi sangat lama.
Yang patut diketahui, kendala seperti ini mungkin saja terjadi karena proses menyuapkan makanan ke mulut memang bukan hal gampang bagi anak usia ini karena kemampuan motoriknya masih belum optimal. Maka alangkah bijaksananya memberi keleluasaan pada anak untuk berusaha makan sendiri meskipun berantakan dan merepotkan. Toh lambat-laun anak pun belajar dari apa yang dilakukannya.
Orang tua sebaiknya juga menghindari kata maupun tindakan yang sekiranya dapat mematahkan semangat dan akhirnya membuat anak malas belajar makan sendiri. Misalnya menghardik/memarahi anak ketika dia menghambur-hamburkan nasi dan lauk-pauknya. Lain hal bila anak memang memain-mainkan makanannya dan sama sekali tidak berniat untuk menyantapnya. Kalau ini yang terjadi, segera arahkan ke “jalur” semestinya. Yang pasti bukan dengan memojokkan, apalagi memarahinya habis-habisan.
- Mogok makan
Adakalanya tiba-tiba anak emoh makan sama sekali. Semakin dipaksa, semakin dia tak mau makan. Bahkan tak jarang disertai dengan gejala tantrum alias mengamuk. Bila ini yang terjadi, orang tua harus bersedia introspeksi diri. Boleh jadi ini muncul karena sikap ibu/ayah yang kasar dan memaksa yang akhirnya membuat mogok makan. Bila ya, orang tua hendaknya mau mengubah sikap sekaligus mengupayakan agar aktivitas makan menjadi sesuatu yang menyenangkan.
- Tak mau duduk
Anak juga seringkali tak mau duduk atau diam di suatu tempat ketika makan. Dia selalu bergerak ke sana kemari sehingga orang tua terpaksa harus mengejar-ngejarnya supaya tetap makan dan akhirnya membuat orang tua kewalahan. Bukan cuma itu. Perilaku tak bisa diam seperti ini sebetulnya juga dapat memicu ketidakseimbangan pada organ pencernaan. Konkretnya, proses mencerna jadi tidak bisa berjalan dengan baik akibat pergerakan tubuh si kecil yang tiada henti.
Bila ini yang muncul sebagai bentuk kebiasaan anak, coba ingat-ingat lagi apakah itu bisa bersumber dari orang tua sendiri atau tidak. Bukan tidak mungkin lo ketika makan, secara tidak sadar orang tua menunjukkan perilaku negatif, semisal makan sambil jalan, ngobrol, baca koran, nonton teve dan sebagainya. Kalau ini yang terjadi, jangan salahkan anak bila ia mengikuti perilaku makan orang tuanya karena dia menganggap memang seperti itulah aktivitas makan yang benar.
Nah, agar hal yang satu ini tidak terjadi, mau tidak mau orang tua harus memberikan contoh baik kepada anak. Caranya, duduk santun di kursi makan, menyendok makanan secara perlahan dan tertib, mengunyahnya tanpa tergesa-gesa ataupun mengeluarkan bunyi dan sebagainya. Kalau orang tua memberi contoh baik, tentu akan terpatri dalam diri anak bahwa proses makan yang benar ya memang seperti itu. Kelak anak pun akan menerapkan cara-cara yang baik dan benar dalam keluarganya
Mailing List Nakita
milis-nakita@news.gramedia-majalah.com
