Modul III tentang Karunia Konsistensi
Ada 2 prinsip keliru dalam mendidik anak; pertama, orangtua selalu menuruti segala kemauan anak, kedua; orangtua terlalu mengekang anak.
Apakah kita termasuk mendidik anak dengan cara seperti itu? semoga saja tidak…. jadi harus bagaimana???
Ada kalanya kita harus menuturi keinginan anak, tapi tetap harus tegas kepada anak, jangan sampai kita diatur oleh anak.
Sekali melarang, maka laksanakan larangan itu. Sekali tidak boleh, maka laksanakan statement itu. Orangtua harus bertanggung jawab terhadap apa yang telah dikatakan kepada anak.
Anak kita memiliki memory yang sangat dahsyat, jauh melebihi kita para orangtua
Itulah kenapa anak-anak kan selalu ingat dengan janji-janji yang pernah kita ucapkan
sekalipun kita sudah melupakan janji tersebut
maka jangan sembarangan ingkar janji
Tegas pada anak
sekali sudah disepakati, jangan diubah
rengekan bahkan amukan, abaikan saja
sekali tidak tetap tidak
Ingat; TEGAS bukan keras
tegas bukan teriak dengan kencang
kita bisa tegas dengan tetap tersenyum
_______
Modul IV tentang Karunia Kiblat (+)
Fokus pada kebaikan mereka saja
betapa banyak kelebihan mereka yang membuat kita bangga
tapi kita sering lupa, suka kita tutupi dengan kejengkelan yang tak layak
padahal enegi (+) akan membuat potensi baik mereka melejit
begitupun dengan energi (-) bisa membuat anak kita terpuruk dalam kelemahan
Masih ingatkah tentang hukum kekekalan energi yang kita perlajari saat sekolah dulu?
“energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, tapi bisa berpindah dari satu bentuk ke bentuk yang lain”
Hubungannya dengan bahasan ini???
Ketika kita mengeluarkan energi positif (+) pada anak, maka anak itu akan mengeluarkan energi positif pula, begitu pun sebaliknya.
Ketika kita memberikan kebaikan kepada anak, maka anak pun akan mengeluarkan kebaikan pula, tapi ketika kita memarahi anak (energi -), maka anak pun akan kembali mengeluarkan kemarahan tersebut.
bingung ya?
Pokoknya kita harus berbuat positif aja deh sama anak, biar anak juga berlaku positif…
Bagaimana mengarahkan anak menuju kiblat (+)? lakukan TARIAN BERMANPAAT:
Temukan hal (+) pada diri anak
Akui perbuatan ++
Rayakan Perbuatan +++
Ingatkan perbuatan ++++
BERikan rencana +++
MANfaatkan imbalan dari pada hukuman
PAku perbuatan + yang telah mereka lakukan
ATur waktu untuk berbicara dan bercerita kisah-kisah +
Berkiblat (+) bukan berarti mengabaikan perasaan (-), tapi mengatur energi agar lebih terarah pada hal (+)
______
Modul V tentang Karunia Mendengar
Dua telinga dengan satu mulut
Allah arahkan agar kita lebih banyak mendengar daripada bicara
Banyak orang bisa menjadi pendengar yang baik buat temannya
temapat curhat favorit bagi rekan dan saudara
tapi mengapa banyak orangtua justru gagal
membuat Sang anak mau bercerita panjang lebar pada orangtua
Why???
Apa salah anak bila tak betah berlama-lama ada didekat ortu
boro-boro curhat, ntar aja la yau…
Karena anak justru sering jadi tempat sasaran kemarahan,
lampiasan kejengkelan para orangtua
setiap moment bersama ada saja ceramah, kultum, nasihat, tausiyah dkk dari orangtua.
lantas kapan giliran anak bicara? mana ruang tempat mereka curhat ke orangtua?
salah siapa bila mereka lari keluar rumah hanya demi cari pendengar yang baik?
Dan ini terjadi sejak anak kecil
sampai mereka remaja sambung dewasa
mana telinga kita untuk anak
terlebih mendengar disini bukan hanya sekedar pasang telinga
sekali lagi bukan….
tapi mendengar yang menghadirkan rasa
yang melibatkan CINTA
Dengar…hai dengar…
mendengar sebenarnya mudah
tak butuh biaya, tak perlu sarana tambahan
bisa dalam posisi apa saja, duduk, telentang, tengkurep atau posisi bebas lainnya
tak perlu perangkat tata bahasa selayaknya bicara apalagi menulis
tapi mengapa kita enggan
sungguh dengan mendengar kita bisa tau masalah
dan hanya dengan tau masalah kita bisa berkontribusi sesuai kebutuhannya
Jadi tak ada alasan lagi, siaplah jadi pendengar
belajar dan berjuang menjadi tempat curhat yang baik buat anak-anak kita
SEKARANG !!! dan SELANJUTNYA !!!
________
Modul VI tentang Karunia Saffat
Q.S Ash-Shaffat : 102
“……..Ibrahim berkata: Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi aku menyembelihmu. Maka pikirkan bagaimana pendapatmu?…………”
Selalu ajak anak untuk berkomunikasi, berdiskusi untu memutuskan hal yang berhubungan dengan anak. Seperti nabi Ibrahim, meminta pendapat anaknya Ismail untuk satu keputusan yang berhubungan dengannya. Anak dilibatkan !!!
bantu anak untuk membuat kepustusan bagi dirinya sendiri, misalnya dengan mengajukan pertanyaan, tentunya pertanyaan yang diajukan harus:
- membuat anak berfikir
- mendorong gagasan yang lebih baik
- mengarahkan anak akhirnya dapat membuat keputusan sendiri
- menuju kiblat positif
- membuat perasaannya didengar
Ketika keputusan itu berasal dari anak maka:
* Seorang anak tidak dapat memerangi keputusan yang telah dibuatnya sendiri
* Seorang anak senang menggapai sesuatu dengan inisiatifnya sendiri
* Beri kesempatan anak untuk membuat keputusan bagi dirinya, maka ia akan memiliki inisiatif, semangat dan energi untuk melaksanakan apa yang diputuskannya.
Artikel Berhubungan:
PSPA (Program Sekolah Pengasuhan Anak)
Sudahkah aku jadi orangtua shaleh?
Yuk, jadi orangtua shalih


ass teh vi…mksh udh bagi2 ilmu, InsyaAllah brmanfaat…boleh dshare g teh?:)
wasswrwb… silahkan dengan senang hati ^_*