Alhamdulillah tanggal 16-17 Oktober ini, saya bisa ikut PSPA (Program Sekolah Pengasuhan Anak). Setelah menunggu berbulan-bulan akhirnya ada lagi jadwal PSPA di Bandung.
Tak saya lewatkan kesempatan ini, yang pertama saya lakukan adalah bilang ke suami dan booking jadwal suami. Buat apa? Buat gantian ngasuh anak
. Alhamdulillah anak kami ini belum terbiasa di asuh oleh selain kami, karena memang sejak bayi kami hanya tinggal bertiga dan hanya sesekali saja berkunjung ke rumah kakek-nenek, serta sanak saudara.
Baru kali ini, saya meninggalkan anak dengan waktu lumayan lama rada was-was juga, tapi saya yakin dan percaya semua akan baik-baik saja. Sebelumnya, saya bicarakan dengan anak saya “tih, besok mama mau ikut seminar, atih sama bibih yah….” Alhamdulillah ketika saya berangkat, tak ada tangisan, kerewelan, dan sebagainya dan saya pun tenang ikut PSPA. ^_*
Setelah ikut Program PSPA, saya serasa menjadi orangtua yang berbeda. Tak sedikitpun rasa kesal apalagi pengen marah sama anak, padahal anaknya sama, ‘rewelnya’ juga sama.
Jadi aneh, kok kemaren-kemaren bawaannya keseeeeel aja, klo anak rewel apalagi klo rewelnya tanpa sebab. Sekarang mah… biasa aja tuh…
Memang wajar anak rewel, memang wajar juga kita kesel… karena kita bukan malaikat dan anak kita juga bukan malaikat yang memang tercipta sebagai ahli ibadah yang langsung terampil melakukan semua kebaikan, anak-anak kita tengah belajar sedang berproses,bereksplorasi menjadi cahaya kehidupan.
Dan….jika kita memahaminya, Insya Allah anak-anak kita akan menebar cahaya untuk kehidupan bahkan juga untuk kita, orangtuanya sekalipun kita tidak lagi hidup di dunia.
“Ya.. ya.. ya… itu sih saya sudah tahu… Tetap aja, klo udah kesel mah kesel, hi geregetan jadi pengen nyubit…” Itulah yang saya rasakan sebelum ikut PSPA mungkin ibu-ibu yang lain juga?
Ini terjadi akibat “program yang diinstall di otak kita ” negatif”. saat kita punya anak, darimana kita mendapatkan informasi tentang bagaimana mereka membesarkan anak? darimana kita mengetahui cara mereka membesarkan anak? pilihannya besarnya ada 3:
1. kita menggunakan cara sebagaimana mereka diperlakukan oleh orangtua mereka saat mereka kecil dulu (warisan).
2. kita menggunakan cara coba-coba (try & error)
3. kita menggunakan cara baru melalui BELAJAR.
Saat kita tidak melakuan hal yang kedua dan yg ketiga maka sebagian besar orangtua tanpa sadar sebenanrya melakukan lebih banyak metode yang pertama: Yakni dari warisan.
Akibatnya, banyak orangtua faham bahwa membentak anak itu tidak boleh, banyak orangtua faham bahwa mencubit anak itu harus dihindari. Tapi mengapa sebagian mereka masih melakukannya secara spontan saat anak melihat anak berbuat negatif?
Sebab terbesar adalah karena mereka pernah DIPERLAKUKAN HAL YANG SAMA saat mereka kecil. Jadi, program itu sudah berpuluh tahun terinstall lama dalam otak orangtua dari kecil sehingga saat mereka mengalami kejadian yang sama mereka memanggil kembali dalam memorinya referensi tersebut.
Insya Allah ini akan hilang jika orangtua terus menginsttal program baru ke dalam pikirannya melalui BELAJAR. Belajar bagaimana mencari cara mengungkapkan perasaan2 kita lebih positif tanpa harus menyakiti anak2 kita.
Begitu kata Abah (Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari) trainer di PSPA. ^_*
Day 1
Modul I tentang Karunia Fitrah
Kita sudah sering dingatkan, bahwa semua anak lahir fitrah
kita juga sudah sepakat bahwa anak adalah anugrah, anugrah terindah ^^
tapi seringkali, sadar atau tidak, mereka seolah menjadi beban buat kita
bahkan kita sering merasa anak-anak tertalu banyak meminta disaat sebenarnya mereka sedang memberi.
buktinya… disaat kita begiiitu lelah sepulang kerja, anak-anak dengan polos dan lucunya memberikan konser dadakan, dengan kata-kata yang tentu saja belum jelas dan cadel mereka bernyanyi ingin menghibur orangtua nya yang ‘kecapean’ sepulang kerja. Seketika hilaaaaang rasa cape itu…
Bukankah anak selalu memberi? Memberi kebahagiaan…
Anak adalah anugrah…
seharusnya bersama mereka adalah suatu kebahagiaan
tapi mengapa banyak anak menjadi “yatim piatu” disaat ortunya masih lengkap
berapa banyak anak enggan bercerita kepada orangtua, mereka justru memilih yang lain: teman, sahabat, pacar dan lain-lain.
Kita ingin menjadi orangtua terbaik…
tapi, sudahkah kita menyediakan waktu bersama anak hanya bersama anak saja.
tidak bertiga dengan kompor, berempat dengan majalah, berlima dengan cucian, berenam dengan laptop.
Mereka tak perlu 24 jam kita, mereka juga tak butuh itu
30 menit saja/hari, ini sungguh fantastis, hasilnyapun akan dahsyat
Sudahkah???
Andai saja kita mau
meluangkan waktu sesaat untuk menatap mata mereka
betapa mereka sangat menggemaskan
beruntungnya kita dipercaya dititipi Allah karunia fitrah
_______
Modul II tentang Karunia Belajar
Belajar… apa yang dimaksudkan dengan belajar adalah ini:
* Mengulang pelajaran sekolah
* Baca buku pelajaran
* Duduk di meja belajar
* dan lain-lain
tujuan nya apa ya?
Supaya pintar, menambah wawasan, dapat gelar….
Klo udah gitu trus ngapain?
Adalagi, pintar itu yang bagaimana? Apakah anak yang tidak 10 besar di Kelas tidak pintar?
Apa saja yang penting dipelajari anak?
Bahasa Arab penting, matematika penting, Bahasa Inggris juga penting.
Trus penting mana dengan disiplin, kejujuran, tanggungjawab dan sejenisnya?
Nah lho…
Penasaran?
Bagus!!!
Memang penasaran inilah yang dibutuhkan anak-anak kita agar keranjingan belajar
penasaran mereka sering kita salah artikan
kita renggut dengan pelototan, atau pengalihan
lalu kita omeli saat mereka enggan belajar
Belajar itu menyenangkan, sebenarnya…
tapi hari gini berapa banyak anak yang mengalami kesulitan belajar
belajar membuat anak stress
Kok bisa?
Anak dituntut untuk tau sesuatu sebelum waktunya
belajar bahkan kursus baca saat mereka masih sangat belia.
Bisa cepat baca, tidak membuat anak jadi gemar membaca, padahal sebagai ortu sebenarnya yang kita inginkan anak suka membaca. Ehhmmm…
Tidak masalah anak bisa baca di usia sangat belia (anak saya bisa baca di usia 20 bulan), asalkan orangtua lebih mempersiapkan anak untuk suka membacanya bukan bisa membaca-nya. Bagaimana nantinya anak suka membaca (walaupun sudah bisa membaca) melihat orangtuanya memegang buku pun tak pernah? Dibacakan buku cerita tak pernah… jalan-jalan ke toko buku atau pameran buku saja tak pernah… dan dirumah pun tak ada buku karena tak pernah dibelikan.
Belum lagi berapa banyak informasi yang sesungguhnya tidak perlu
tapi mereka harus menghafalnya
hanya demi sebuah nilai ujian, supaya lulus UN gitu lho..
Harus kita ingat… semua anak cerdas…
Jangan pernah mengecilkan mereka hanya karena nilai 6 untuk satu pelajaran sekolah. Jangan sekali-kali menganggap mereka ‘sulit’ hanya karena sulit menghitung
bahkan seorang Thomas Alva Edisaon tidak sucses di Sekolah formalnya
ia berhasil menemukan ‘bola lampu’ bukan karena juara umum di Sekolah
atau menang Olympiade Fisika
bukan…
tapi karena ia punya Nancy Elliot sebagai ibu, sebagai orangtua Nancy bukan orang hebat yang tau segalanya tentang dunia, sebagai ortu Nancy hebat
karena memberikan “wadah” bagi Thomas untuk terus bergairah belajar
meski sudah dicap bodoh dan dikeluarkan dari Sekolah
Sekali lagi belajar adalah proses dari tidak tau menjadi tau,
yang sudah tau menjadi lebih tau, yang melibatkan fisik, pikiran dan emosi
dan agar proses ini tidak terhenti
buatlah belajar itu menyenangkan
Kelola penasaran-penasaran anak
mereka adalah anak-anak kita dengan semua keistimewaan yang ada
bukan Thomas Alva, bukan siapa
kitalah orangtua terbaik buat mereka
Sudahkah aku jadi orangtua shaleh?
Yuk, jadi orangtua shalih

Wah… hebat Mi tulisana… dua jempol lah kanggo Mi…
Bibih oge hebat lah…
Pingback: PSPA (Program Sekolah Pengasuhan Anak)-- Day 2 | MamaCerdas.com
Pingback: Bagaimana sih anak BaTiTa Belajar??? | MamaCerdas.com
Pingback: Hypnoparenting | MamaCerdas.com